October 7, 2014

Tenggelam

Rasanya seperti tenggelam di dalam air ketika perhatianmu harus teralihkan dan terganggu oleh berbagai masalah yang datang bertubi-tubi. Masalah yang datang bukan hanya dari diri sendiri tetapi juga yang datang dari luar. Sesak dada ini seperti tidak dapat bernafas seperti biasanya. Tidur tidak tenang, pekerjaan jadi terbengkalai, lalu semua hal di kehidupanmu sepertinya merongrong dirimu dan tak mau berhenti sejenak. Aku hanya ingin bernafas sejenak tanpa di rongrong pertanyaan "Kapan sidang?", "Kapan lulus?", "Kapan kerja?", "Sudah selesai skripsimu?" dan sebagainya. Siapa  pula yang tidak ingin segera lulus dan mulai mencari tahap kehidupan baru? Memangnya ada manusia yang ingin terhenti di tahap yang sama terus menerus? Aku pun demikian. Aku tahu jika aku terdiam terlalu lama di sebuah pijakan, akan ada genderang keras yang di bunyikan mereka, yang anak-anak sebut, "orang tua" atau pula "si pemegang saham". Mereka akan mulai mendentumkan letusan meriam yang sungguh banyak sampai akhirnya aku merasa kalah dalam peperangan dan harus menyusun strategi supaya tidak diam di tempat. Tidak cukup dengan rongrongan dari mereka, kekesalan datang lagi dari penjuru yang berbeda. Bagaimana tidak, jika kamu harus pindah dari tempat tinggalmu selama menetap di kota tempat dirimu menuntut ilmu sebab tempat itu mau di bangun ulang; dan kamu harus pindah tepat di saat tahun ajaran baru perkuliahan baru saja di mulai? Sungguh hebat bukan! Waktu itu memang penuh kejutan dan keterkejutanku yang akhirnya membuat aku tak mampu panik seperti biasanya. Ya, sebenarnya dan biasanya saat mendengar hal yang membuat pusing kepala seperti pindah tempat tinggal itu seharusnya saya sangat panik dan benar-benar ekspresif, seperti respons saya jika melihat seekor kecoak mulai mendekati saya. Tapi kau tahu apa yang ku lakukan saat mendengar bahwa teman-teman dan aku yang tinggal dalam sebuah kos yang sama harus pindah ? Aku hanya terdiam dan tersenyum. Respons yang sungguh berkebalikan dari aku yang biasanya dan aku kini tahu apa yang akan terjadi bila aku tidak panik seperti yang biasanya kulakukan. Fase kebuntuan dan kemarahan terkekang di dalam jiwa ini dan membuat kacau seluruh sistem emosiku. Aku benar-benar seperti orang linglung yang tak dapat berpikir jernih. Tekanan dari dua penjuru membuat jiwaku benar-benar lelah dan hanya ingit berhenti melakukan segala hal. Aku merasa tenggelam dan tak bisa bernafas karena hanya gas masalah yang dapat kuhirup, sedangkan oksigen yang kubutuhkan sepertinya tiba-tiba raib begitu saja.

Aku berharap oksigen dapat segera kuhirup dan memenuhi paru-paru ini serta terserap oleh darahku. Aku ingin gas kehidupan itu segera menjalar keseluruh bagian tubuhku, mengisi pembuluh-pembuluh darah dan jantungku. Aku ingi segera bernafas dan meneriakkan kelegaan dan sukacita. Aku ingin dapat berenang di samudera kegembiraan yang tak terbatas dan terbang bebas di angkasa keriangan. Aku mau tombak-tombak tajam yang mulai menghimpit itu segera tertarik sehingga aku bernafas lega. Aku ingin kekhawatiranku segera menghilang dan menguap seperti air yang menguap lalu berubah menjadi awan di langit biru.

No comments:

Post a Comment